<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dedy Farhamsa</title>
	<atom:link href="http://www.defanet.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.defanet.net</link>
	<description>{Methode, Algoritm, Programming}</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Apr 2010 11:43:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Penyesuaian Fungsi Gelombang Periodik Tak-Harmonik pada Karakteristik Pola Hujan Lokal</title>
		<link>http://www.defanet.net/blog/235</link>
		<comments>http://www.defanet.net/blog/235#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 06:49:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Farhamsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal & Penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[Fungsi Gelombang]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Least Square Non-Linier]]></category>
		<category><![CDATA[Levenberg Maquart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.defanet.net/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Abstrak – Peninjauan kembali terhadap nilai-nilai frekuensi karakteristik peubah curah hujan menghasilkan adanya pola kelipatan frekuensi revolusi bumi yang mengakibatkan nilai-nilai ini tidak bisa dianggap berdiri sendiri seperti yang disimpulkan pada penelitian sebelumnya. Temuan ini membuka peluang untuk membuat fungsi gelombang priodik tak-harmonik dari superposisi gelombang-gelombang harmonik menggunakan pola frekuensi tersebut. Fungsi gelombang yang dihasilkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Abstrak</strong> – Peninjauan kembali terhadap nilai-nilai frekuensi karakteristik peubah curah hujan menghasilkan adanya pola kelipatan frekuensi revolusi bumi yang mengakibatkan nilai-nilai ini tidak bisa dianggap berdiri sendiri seperti yang disimpulkan pada penelitian sebelumnya. Temuan ini membuka peluang untuk membuat fungsi gelombang priodik tak-harmonik dari superposisi gelombang-gelombang harmonik menggunakan pola frekuensi tersebut. Fungsi gelombang yang dihasilkan kemudian disesuaikan terhadap data lapangan dengan metode Least-Square menggunakan algoritma Levenberg-Maquart. Hasil penelitian ini menghasilkan fungsi gelombang yang mirip dengan pola curah hujan lokal tiap daerah yang ditinjau dengan kesesuaian lebih dari 50%.</div>
<div class="paragraph"><strong>Kata Kunci : </strong><a href="http://paws.kettering.edu/~drussell/Demos/superposition/superposition.html">Fungsi Gelombang</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Non-linear_least_squares">Least Square Non-Linier</a>, <a href="http://www.fizyka.umk.pl/nrbook/c15-5.pdf">Algoritma Levenberg Maquart</a>.</div>
<blockquote><p><a href="https://docs.google.com/fileview?id=0B1N4tod25sz9ODFkZmRjYjYtY2Y3OS00N2U4LTgzNGUtOTA5ODNlNmViMDIy&amp;hl=en" target="_blank"><img class="alignright" title="Download Icon" src="http://defanet.net/wp-content/uploads/download-icon.jpg" alt="" width="58" height="57" /></a><b>STOP PLAGIATISME</b> Dilarang memodifikasi jurnal ini tanpa se ijin penulis. Kami sangat menghargai apabila ada feedback dari pembaca baik berupa pertanyaan, saran, kritikan dsb.</a></p></blockquote>
<div  class="related_post_title">Related Posts</div><ul class="related_post"><li><a href="http://www.defanet.net/blog/220" title="Analisis Nilai Parameter Faktor-Faktor Perubah Iklim dengan Metode Fast Fourier Transform (FFT)"><img src="" alt="Analisis Nilai Parameter Faktor-Faktor Perubah Iklim dengan Metode Fast Fourier Transform (FFT)" /></a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.defanet.net/blog/235/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Analisis Nilai Parameter Faktor-Faktor Perubah Iklim dengan Metode Fast Fourier Transform (FFT)</title>
		<link>http://www.defanet.net/blog/220</link>
		<comments>http://www.defanet.net/blog/220#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 05:18:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Farhamsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal & Penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[FFT]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Hujan]]></category>
		<category><![CDATA[Pola iklim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.defanet.net/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[
Abstrak – Pada dasarnya iklim di Indonesia dipengaruhi oleh angin musiman ,muson barat dan muson timur, yang mempunyai perioda masing-masing 6 bulan. Namun banyak faktor lain yang mempengaruhi iklim seperti letak geografis terhadap garis equator, bentuk permukaan bumi, bioma, laut hingga faktor gejala alam seperti El Nino, La Nina, ledakan matahari dan pemanasan global. Faktor-faktor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<div class="paragraph"><b>Abstrak</b> – Pada dasarnya iklim di Indonesia dipengaruhi oleh angin musiman ,muson barat dan muson timur, yang mempunyai perioda masing-masing 6 bulan. Namun banyak faktor lain yang mempengaruhi iklim seperti letak geografis terhadap garis equator, bentuk permukaan bumi, bioma, laut hingga faktor gejala alam seperti El Nino, La Nina, ledakan matahari dan pemanasan global. Faktor-faktor tersebut membuat pola iklim untuk tiap daerah berbeda dan unik.</div>
</p>
<p>
<div class="paragraph">Dalam penelitian ini, pola iklim yang kompleks dianalisis dengan metode Fast Fourier Transform (FFT). Data yang dianalisis adalah data curah hujan untuk 5 stasiun observasi cuaca yang tersebar di Jakarta berkisar antara tahun 1973 hingga 2005. Tujuannya adalah untuk mengetahui pola-pola periodik iklim disetiap daerah tersebut.</p>
</div>
<p>
<div class="paragraph">Hasil penelitian diambil dari nilai 5 frekuensi yang mempunyai intensitas tertinggi untuk setiap titik stasiun. Untuk data stasiun  Cengkareng, Kemayoran, Tanjung Periok, dan DB Betung, pola tertinggi diperoleh dari pola iklim tahunan (11,93 bulan), pola ini disinyalir berasal dari pola peredaran bumi mengelilingi matahari dan memberikan efek terbesar terhadap perubahan iklim di Indonesia (80-%70%). Pola terbesar kedua (18%-7%) adalah pola tengah tahunan (5,96 bulan), pola ini berasal dari pola sudut paparan sinar matahari terhadap garis equator bumi. Pola lain memberikan nilai yang sedikit berbeda untuk setiap daerah (4%-2%) , pola inilah yang memberikan sifat unik trend cuaca untuk setiap daerah. Sedangkan untuk daerah sekitar Dermaga Bogor, pola-pola selain iklim tahunan dan tengah tahunan mempunyai pengaruh yang cukup besar 11,93 bln : 55%, 5,95 bln : 19%, 35.71 bln:17%, dan 3,20 bln:10%. Sebaran pola yang hampir merata tersebut membuat cuaca pada daerah ini sulit untuk di prediksi.</div>
</p>
<p>
<div class="paragraph"><b>Kata Kunci :</b>  <a href="http://www.dirgantara-lapan.or.id/moklim/edukasi0609pch.html">Pola Iklim Jakarta</a>, Fast Fourier <a href="http://www.mathworks.com/access/helpdesk/help/techdoc/ref/fft.shtml">Transform (FFT)</a>.</div>
</p>
<blockquote><p><a href="https://docs.google.com/fileview?id=0B1N4tod25sz9ODFkZmRjYjYtY2Y3OS00N2U4LTgzNGUtOTA5ODNlNmViMDIy&amp;hl=en" target="_blank"><img class="alignright" title="Download Icon" src="http://defanet.net/wp-content/uploads/download-icon.jpg" alt="" width="58" height="57" /></a><b>STOP PLAGIATISME</b> Dilarang memodifikasi jurnal ini tanpa se ijin penulis. Kami sangat menghargai apabila ada feedback dari pembaca baik berupa pertanyaan, saran, kritikan dsb.</a></p></blockquote>
<div  class="related_post_title">Related Posts</div><ul class="related_post"><li><a href="http://www.defanet.net/blog/235" title="Penyesuaian Fungsi Gelombang Periodik Tak-Harmonik pada Karakteristik Pola Hujan Lokal"><img src="" alt="Penyesuaian Fungsi Gelombang Periodik Tak-Harmonik pada Karakteristik Pola Hujan Lokal" /></a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.defanet.net/blog/220/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Data Dari File</title>
		<link>http://www.defanet.net/blog/190</link>
		<comments>http://www.defanet.net/blog/190#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 03:17:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Farhamsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Programming]]></category>
		<category><![CDATA[Baca File]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Komputasi]]></category>
		<category><![CDATA[Program Java]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.defanet.net/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Menginport data dari file ke dalam program komputer untuk dianalisis atau diproses dalam pengolahan data adalah hal terpenting dalam Scientifics Programming. Artikel ini adalah contoh class BacaFile.java yang saya sering gunakan untuk untuk tujuan tersebut
Membaca Data dari File Baris per Baris
Misalkan kita memiliki deretan data satu kolom seperti gambar.1, Nama program untuk membaca file seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menginport data dari file ke dalam program komputer untuk dianalisis atau diproses dalam pengolahan data adalah hal terpenting dalam Scientifics Programming. Artikel ini adalah contoh class BacaFile.java yang saya sering gunakan untuk untuk tujuan tersebut</p>
<h3>Membaca Data dari File Baris per Baris</h3>
<p><img class="alignright size-full wp-image-208" style="border: 1px solid black; margin-left: 1px; margin-right: 1px;" title="dataLineByLine" src="http://www.defanet.net/wp-content/uploads/2010/03/dataLineByLine.bmp" alt="dataLineByLine" width="102" height="138" />Misalkan kita memiliki deretan data satu kolom seperti gambar.1, Nama program untuk membaca file seperti ini adalah <a href="http://docs.google.com/leaf?id=0B1N4tod25sz9ZjNhMzUwOGQtMWMzNS00NDM2LWJhM2MtNzZjODYzM2ViNGM3&#038;hl=en" target="_blank">BacaFile.java</a>, berikut alur jalannya program.</p>
<ol>
<li>Didalam method <span style="color: #000000;">choosingFile(),</span><span style="color: #3366ff;"> JFileChooser(&#8220;D:/myData&#8221;</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #3366ff;">)</span> </span> digunakan untuk membuka jendela browsing  untuk mencari dimana file data disimpan dalam komputer. Secara default jendela browsing akan membuka folder myData di Drive D:/. [Baris 12]</li>
<li>Setelah ditemukan dan jika file setuju dibuka :<span style="color: #ff0000;"> <span style="color: #3366ff;">if(returnVal == JFileChooser.APPROVE_OPTION)</span></span>, file tersebut dismpan menjadi objek stream sehingga mudah digunakan oleh program. [Baris 18-20]</li>
<li>Method readLineByLine() akan melakukan looping untuk membaca data stream ini baris demi baris. [Baris 30-32]</li>
</ol>
<pre class="brush: java;">
public class BacaFile {
    FileInputStream fstream;
    DataInputStream in;
    BufferedReader br;
    Vector data;

    public BacaFile() {
        data = new Vector();
    }

    public void chooseFile() {
        JFileChooser chooser = new JFileChooser(“D:/”);
        FileNameExtensionFilter filter = new FileNameExtensionFilter(“Text Only”, “txt”);
        chooser.setFileFilter(filter);
        int returnVal = chooser.showOpenDialog(new JFrame());
        if(returnVal == JFileChooser.APPROVE_OPTION) {
            try {
                fstream = new FileInputStream(chooser.getSelectedFile());
                in = new DataInputStream(fstream);
                br = new BufferedReader(new InputStreamReader(in));
            }catch (Exception e){
                System.err.println(&quot;Error:&quot; + e.getMessage());
            }
        }
    }

    public Vector readLineByLine() {
        String strLine;
        try {
            while ((strLine = br.readLine()) != null) {
                data.addElement(strLine);
            }
            in.close();
            return data;
        } catch (Exception e) {
            System.err.println(&quot;Error:&quot; + e.getMessage());
            return null;
        }
    }
}
</pre>
<p>Class diatas dijalankan menggunakan TestClass.java</p>
<pre class="brush: java;">
public class TestClass {
    public static void main(String args[]) {
        BacaFile bacaFile = new BacaFile();
        bacaFile.chooseFile();
        Vector data = bacaFile.readElementByElement();
        for(int i=0;data.size(); i++) {
            System.out.println(String.valueOf(data.get(i)));
        }
    }
}
</pre>
<h3>Membaca dari File Elemen per Elemen</h3>
<p><img class="alignright size-full wp-image-209" style="border: 1px solid black;" title="dataElemenByElemen" src="http://www.defanet.net/wp-content/uploads/2010/03/dataElemenByElemen.bmp" alt="dataElemenByElemen" width="300" height="93" /></p>
<p>Agar program dapat membaca data elemen per elemen yang membentuk matrix nxm seperti gambar 2. Kode program BacaFile.java perlu disisipkan <strong><span style="color: #3366ff;">String[] subLine = strLine.split(“\t”)</span></strong> [Baris 30-31]. Seperti yang dicontohkan diatas, strLine menyimpan data berupa string baris per baris, misalnya untuk baris pertama strLine berisi <span style="color: #ff0000;">“439	397 252 168 375”</span> yang dipisahkan masing-masing menggunakan Tab. Kemudian <strong><span style="color: #3366ff;">strLine.split(“\t”)</span></strong> akan memisahkan mereka berdasarkan pemisah tab dan menyimpannya dalam array String[].</p>
<pre class="brush: java; first-line: 30;">
    while ((strLine = br.readLine()) != null) {
        String[] subLine = strLine.split(“\t”);
        data.addElement(subLine);
     }
</pre>
<p>Untuk menampilkan data pada kolom ke 3 misalnya, modifikasi TestClass.java pada baris 6-8, menjadi seperti ini</p>
<pre class="brush: java; first-line: 6;">
    for(int i=0;data.size(); i++) {
        String[] subData = data.get(i);
        System.out.println(subData[2]);
    }
</pre>
<div  class="related_post_title">Related Posts</div><ul class="related_post"><li><a href="http://www.defanet.net/blog/10" title="Interpolasi Kriging untuk Membuat Peta Kontur"><img src="" alt="Interpolasi Kriging untuk Membuat Peta Kontur" /></a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.defanet.net/blog/190/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hubungan antara Iklim dan Cuaca</title>
		<link>http://www.defanet.net/blog/179</link>
		<comments>http://www.defanet.net/blog/179#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 10:10:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Farhamsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Climate]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[Hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Relations]]></category>
		<category><![CDATA[Weather]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.defanet.net/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[
Iklim umumnya didefinisikan sebagai cuaca rata-rata, dan dengan demikian perubahan iklim dan cuaca saling berkaitan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan pada pola cuaca, dan (secara statistik) perubahan cuaca dalam rentang waktu yang panjang mengidentifikasi perubahan iklim. Walaupun cuaca dan iklim berkaitan sangat erat, keduanya tetap sangat berbeda. Hal yang membingungkan antara cuaca dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<div class="paragraph">Iklim umumnya didefinisikan sebagai cuaca rata-rata, dan dengan demikian perubahan iklim dan cuaca saling berkaitan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan pada pola cuaca, dan (secara statistik) perubahan cuaca dalam rentang waktu yang panjang mengidentifikasi perubahan iklim. Walaupun cuaca dan iklim berkaitan sangat erat, keduanya tetap sangat berbeda. Hal yang membingungkan antara cuaca dan iklim muncul ketika para ilmuwan ditanya bagaimana mereka bisa memprediksi iklim 50 tahun dari sekarang sedangkan mereka tidak dapat meramalkan cuaca beberapa minggu dari sekarang. Sifat cuaca yang chaotic (tak menentu) ini membuat cuaca tidak dapat diprediksi dalam waktu harian. Memproyeksikan perubahan iklim (yaitu, cuaca rata-rata jangka panjang) akibat perubahan komposisi atmosfer atau faktor-faktor lainnya jauh lebih mudah diselesaikan ketimbang memprediksi cuaca harian. Sebagai analogi, kita tidak mungkin memprediksi usia seseorang kapan dia meninggal, tapi kita dapat mengatakan (dengan keyakinan tinggi) bahwa usia meninggal rata-rata laki-laki di negara-negara industri adalah sekitar 75 tahun. Hal yang membingungkan lainnya adalah pemikiran bahwa musim dingin extrim dibeberapa tempat di dunia adalah bukti penyeimbang pemanasan global, pemikiran ini jelas salah. Selalu ada panas atau dingin yang ekstrim , walaupun frekuensi dan intensitasnya berubah mengikuti perubahan iklim. Tapi ketika data cuaca di rata-ratakan terhadap ruang dan waktu, maka fakta bahwa pemanasan dunia muncul dengan jelas.</div>
</p>
<p>
<div class="paragraph">Para ahli meteorologi menaruh banyak upaya dalam mengamati, memahami dan meramalkan evolusi dari hari ke hari sistem cuaca . Menggunakan berbagai konsep ilmu fisika tentang bagaimana atmosfer bergerak, menghangat, mendingin, hujan, salju, dan penguapan air, ahli meteorologi biasanya dapat meramalkan cuaca dengan sukses beberapa hari ke depan. Faktor pembatas utama terhadap prediktabilitas cuaca dalam beberapa hari kedepan adalah properti dinamis mendasar dari atmosfer. Tahun 1960-an, ahli meteorologi Edward Lorenz menemukan bahwa perbedaan kondisi awal yang sangat kecil  dapat menghasilkan hasil perkiraan yang jauh berbeda. Kondisi ini disebut butterfly effect (efek kupu-kupu): yang pada perinsifnya: perubahan fenomena sekecil apapun disuatu tempat dapat mengubah pola cuaca berikutnya ditempat lain. Inti dari efek ini adalah teori chaos, yang berkaitan dengan bagaimana perubahan kecil dalam variabel-variabel tertentu dapat menyebabkan keacakan dalam sistem yang kompleks.</div>
</p>
<div id="attachment_186" class="wp-caption aligncenter" style="width: 710px"><img src="http://www.defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/ClimateSystem.jpg" alt="Gambaran skema komponen-komponen sistem iklim. Proses dan interaksi mereka. Sumber : www.usgcrp.gov" title="ClimateSystem" width="700" height="706" class="size-full wp-image-186" /><p class="wp-caption-text">Gambaran skema komponen-komponen sistem iklim. Proses dan interaksi mereka. Sumber : www.usgcrp.gov</p></div>
<p>
<div class="paragraph">Namun demikian, bukan berarti teori chaos tidak ada gunanya. Sebagai contoh, perbedaan kecil kondisi awal pada masa lalu mungkin saja akan mengubah waktu kejadian badai atau jalur yang ditempuhnya, tapi suhu rata-rata dan curah hujan (yaitu parameter iklim) akan tetap masih sama untuk daerah tersebut dan periode waktu tersebut. Oleh karena itu, dalam menghadapi masalah peramalan cuaca, sangatlah penting untuk mengetahui  semua kondisi pada waktu awal peramalan, hal ini berguna untuk mempelajari iklim dengan berlatarbelakang kondisi-kondisi cuaca. Lebih tepatnya, iklim dapat dipandang sebagai keadaan mengenai seluruh sistem bumi, termasuk atmosfer, tanah, laut, salju, es dan makhluk hidup (lihat Gambar 1) yang berfungsi sebagai latar belakang kondisi global yang menentukan pola cuaca. Contohnya seperti kejadian El Niño di pesisir Peru. Efek El Niño akan menentukan batas-batas kemungkinan evolusi pola cuaca yang dapat menghasilkan efek acak. Sedangkan La Niña akan menghasilkan batas-batas evolusi yang berbeda pula.</div>
</p>
<p>
<div class="paragraph">Contoh lain dapat dilihat dari perbedaan yang mencolok antara musim panas dan musim dingin. Pergantian musim ini disebabkan oleh perubahan dalam pola geografis dan energi yang diserap-dipancarkan oleh Bumi. Demikian pula, proyeksi iklim di masa depan dibentuk oleh perubahan mendasar dalam energi panas pada sistem Bumi, khususnya peningkatan intensitas efek rumah kaca yang memerangkap panas di sekitar permukaan Bumi, ditentukan oleh jumlah karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya di atmosfer. Memproyeksikan perubahan iklim akibat peningkatan gas rumah kaca 50 tahun dari sekarang adalah sangat berbeda dan jauh lebih mudah daripada memperkirakan pola cuaca hanya beberapa minggu dari sekarang. Dengan kata lain, variasi jangka panjang yang ditimbulkan oleh perubahan komposisi atmosfer jauh lebih dapat diprediksi daripada  peristiwa cuaca harian. Sebagai contoh, kami tidak dapat memprediksi hasil dari sebuah lemparan koin atau gulungan dadu, tetapi kita dapat memprediksi perilaku statistik dari sejumlah besar percobaan tersebut.</div>
</p>
<p>
<div class="paragraph">Meskipun banyak faktor yang terus mempengaruhi iklim, para ilmuwan telah menetapkan bahwa aktivitas manusia telah menjadi faktor yang paling dominan dan paling bertanggung jawab untuk sebagian besar pemanasan yang teramati selama 50 tahun belakangan ini. Manusia bukan hanya menyebabkan penambahan jumlah gas rumah kaca di atmosfer, tetapi juga perubahan komposisi partikel kecil (aerosol), dan juga perubahan dalam penggunaan lahan. Akibat adanya perubahan iklim, maka secara otomatis perubahan ini akan mempengaruhi perilaku cuaca sehari-harinya. Sebagai contoh, akibat peningkatan suhu rata-rata bumi, beberapa fenomena cuaca ekstrim (misalnya, gelombang panas dan hujan deras) menjadi lebih sering dan intens , sementara fenomena cuaca lain (misalnya, peristiwa dingin yang ekstrem) malah makin jarang terjadi.</div></p>
<div  class="related_post_title">Related Posts</div><ul class="related_post"><li><a href="http://www.defanet.net/blog/52" title="Faktor-Faktor yg Mempengaruhi Iklim Bumi"><img src="" alt="Faktor-Faktor yg Mempengaruhi Iklim Bumi" /></a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.defanet.net/blog/179/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto Dokumenter “Polusi di China” yg Membuat Hati Siapapun Akan Luluh</title>
		<link>http://www.defanet.net/blog/78</link>
		<comments>http://www.defanet.net/blog/78#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 09:25:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Farhamsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Polusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://defanet.net/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[
Artikel ini dikutip dari email Hefni Effendi yang disebarkan lewat group milinglist Lingkungan IATPI.



Disini digambarkan kondisi lingkungan hidup di negeri tiongkok yang industrinya luar biasa maju pesat,  tapi mengabaikan pencemaran terhadap lingkungan.Pelajaran penting dan sangat berharga buat Indonesia yang juga sedang melangkah ke era industri. Mudah mudahan artikel ini dapat membuka mata kita tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>
Artikel ini dikutip dari email Hefni Effendi yang disebarkan lewat group milinglist Lingkungan IATPI.
</p>
</blockquote>
<div class="paragraph">
<b><i>Disini digambarkan kondisi lingkungan hidup di negeri tiongkok yang industrinya luar biasa maju pesat,  tapi mengabaikan pencemaran terhadap lingkungan.Pelajaran penting dan sangat berharga buat Indonesia yang juga sedang melangkah ke era industri. Mudah mudahan artikel ini dapat membuka mata kita tentang buruknya keperdulian manusia selama ini terhadap lingkungan.</b></i></p>
<p>1. “Di persimpangan provinsi Ningxia dan Mongolia Dalam , aku melihat cerobong tinggi mengepulkan asap keemasan yang menutupi langit biru, padang rumput yang luas telah menjadi pembuangan limbah industri; bau busuk yang tak tertahankan membuat orang terbatuk-batuk; Meningkatnya limbah industri yang mengalir ke Sungai Kuning … ”. &#8211; Lu Guang -<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina01.jpg" alt="PolusiChina01" title="PolusiChina01" width="550" height="382" class="aligncenter size-full wp-image-121" /><br />
2. Limbah kimia dari Kabupaten Industri Kimia Jiangsu Taixing yang dibuang di tepian Sungai Yangtze. 15 Mei 2009.<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina02.jpg" alt="PolusiChina02" title="PolusiChina02" width="550" height="371" class="aligncenter size-full wp-image-124" /><br />
3. Fan Jai Zhuang di kota Anyang , Provinsi Henan . Hanya ada satu tembok yang memisahkan desa ini dari tungku-tungku pembuatan baja. Penduduk desa ini tinggal di lingkungan yang sangat tercemar di mana desa ini terkena hujan zat besi setiap harinya. 24 Maret 2008<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina03.jpg" alt="PolusiChina03" title="PolusiChina03" width="550" height="373" class="aligncenter size-full wp-image-126" /><br />
4. Limbah industri Kabupaten Industri Zhejiang Xiaoshan yang akhirnya mengalir ke Sungai Qiantang. 24 April 2009<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina04.jpg" alt="PolusiChina04" title="PolusiChina04" width="550" height="366" class="aligncenter size-full wp-image-127" /><br />
5. Limbah dari pabrik bei dan baja Henan Anyang mengalir ke Sungai Anyang. 25 Maret 2008<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina05.jpg" alt="PolusiChina05" title="PolusiChina05" width="550" height="372" class="aligncenter size-full wp-image-128" /><br />
6. Sungai-sungai dan waduk di Guiyu, provinsi Guangdong telah terkontaminasi. Terlihat seorang wanita sedang mencuci di sebuah kolam yang tercemar parah. 25 November 2005<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina06.jpg" alt="PolusiChina06" title="PolusiChina06" width="550" height="365" class="aligncenter size-full wp-image-129" /><br />
7. Kabupaten industri Shizuishan di provinsi Ningxia. Cerobong asap yang tinggi mengeluarkan asap dan debu. Penduduk setempat mengambil tindakan pencegahan dari debu yang jatuh dari langit ketika berpergian ke luar. April 22, 2006<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina07.jpg" alt="PolusiChina07" title="PolusiChina07" width="550" height="368" class="aligncenter size-full wp-image-130" /><br />
8. Lepas pantai Laut Kuning, pipa-pipa pembuangan kotoran yang tak terhitung jumlahnya terkubur di pantai dan bahkan ada yang sampai ke laut dalam. April 28, 2008<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina08.jpg" alt="PolusiChina08" title="PolusiChina08" width="550" height="374" class="aligncenter size-full wp-image-131" /><br />
9. Di Ma’anshan, provinsi Anhui , di sepanjang Sungai Yangtze terdapat banyak pabrik pengolahan besi dan plastik berskala kecil. Limbah dengan jumlah yang besar dibuang ke Sungai Yangtze. 18 Juni 2009<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina09.jpg" alt="PolusiChina09" title="PolusiChina09" width="550" height="370" class="aligncenter size-full wp-image-132" /><br />
10. Di Mongolia Dalam ada 2 “naga hitam” dari pembangkit listrik Lasengmiao yang mengotori desa-desa di sekitarnya. 26 Juli 2005<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina10.jpg" alt="PolusiChina10" title="PolusiChina10" width="550" height="367" class="aligncenter size-full wp-image-133" /><br />
11. Pabrik pengolahan sampah Fluorine Chemical di kota Changshu, Provinsi Jiangsu Changshu ini bertanggung jawab untuk pengumpulan dan pengolahan limbah industri. Namun mereka tidak melakukan tugasnya, mereka membuat pipa limbah sepanjang 1500 meter di bawah Sungai Yangtze dan melepaskan limbahnya di sana . 11 Juni 2009<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina11.jpg" alt="PolusiChina11" title="PolusiChina11" width="550" height="368" class="aligncenter size-full wp-image-134" /><br />
12. Tanah di sekitar Sungai Yangtze yang tercemar oleh industri kimia di kabupaten Ma’anshan, propinsi Anhui . 26 Juni 2009<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina12.jpg" alt="PolusiChina12" title="PolusiChina12" width="550" height="373" class="aligncenter size-full wp-image-135" /><br />
13. Sejumlah besar air limbah industri mengalir ke Sungai Kuning dari kabupaten industri Lasengmiao, Mongolia Dalam, setiap harinya. 26 Juli 2005<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina13.jpg" alt="PolusiChina13" title="PolusiChina13" width="550" height="371" class="aligncenter size-full wp-image-136" /><br />
14. Limbah kimia yang setiap hari dibuang ke Sungai Yangtze dari pabrik Zhenjiang Titanium. Kurang dari 1.000 meter di hilir adalah tempat di mana Departemen Air Kota Danyang mendapat air mereka. 10 Juni 2009<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina14.jpg" alt="PolusiChina14" title="PolusiChina14" width="550" height="365" class="aligncenter size-full wp-image-137" /><br />
15. Di kota Haimen, provinsi Jiangsu , Industri-industri kimia di sana membuang air limbah mereka ke Sungai Yangtze. 5 Juni 2009<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina15.jpg" alt="PolusiChina15" title="PolusiChina15" width="550" height="366" class="aligncenter size-full wp-image-138" /><br />
16. Pabrik besi dan baja Tianjin Shexian, di provinsi Hebei adalah sebuah perusahaan yang mencemari daerah sekitarnya secara besar-besaran. Perusahaan ini masih terus berkembang, yang akan semakin serius mempengaruhi kehidupan penduduk setempat. 18 Maret 2008<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina16.jpg" alt="PolusiChina16" title="PolusiChina16" width="550" height="368" class="aligncenter size-full wp-image-139" /><br />
17. Daerah Longmen di kota Hanchen, Provinsi Shaanxi memiliki pembangunan industri berskala besar. Lingkungan tercemar sangat serius di sana . 8 April 2008<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina17.jpg" alt="PolusiChina17" title="PolusiChina17" width="550" height="369" class="aligncenter size-full wp-image-140" /><br />
18. Terdapat lebih dari 100 pabrik kimia di provinsi Jiangsu . Sebagian dari mereka melepaskan air limbah ke laut; beberapa jalur limbah yang paling mencemari ditampung di dalam 5 “kolam penampungan limbah sementara”. Selama 2 gelombang pasang setiap bulannya, maka limbah ini akan terbuang ke laut bersamaan dengan gelombang pasang. 20 Juni 2008<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina18.jpg" alt="PolusiChina18" title="PolusiChina18" width="550" height="367" class="aligncenter size-full wp-image-141" /><br />
19. Distrik industri Hu Ko di provinsi Jiangxi ada di pinggiran Sungai Yangtze. Pabrik-pabrik kimia ini menimbun Sungai Yangtze untuk memperluas pabrik tanpa izin.<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina19.jpg" alt="PolusiChina19" title="PolusiChina19" width="550" height="369" class="aligncenter size-full wp-image-142" /><br />
20. Distrik industri kimia Cihu di provinsi Anhui Chemical Industry membangun sebuah pipa bawah tanah untuk membuang air limbah ke Sungai Yangtze. Kadang-kadang air limbah ini berwarna hitam, abu-abu, merah tua, atau kuning. Air limbah dari pabrik-pabrik kimia yang berbeda memiliki warna yang berbeda. 18 Juni 2009<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina20.jpg" alt="PolusiChina20" title="PolusiChina20" width="550" height="359" class="aligncenter size-full wp-image-143" /><br />
21. Propinsi Shanxi adalah daerah yang paling tercemar dari Cina. Daerah ini juga merupakan provinsi dengan tingkat cacat lahir tertinggi. Pasangan petani yang penuh kasih ini mengadopsi 17 anak-anak cacat. April 15, 2009<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina21.jpg" alt="PolusiChina21" title="PolusiChina21" width="550" height="360" class="aligncenter size-full wp-image-144" /><br />
“Di beberapa daerah, kehidupan orang-orang China terancam oleh pencemaran lingkungan. Penduduk menderita dari segala macam penyakit yang tidak jelas, desa kanker, peningkatan jumlah bayi cacat, ini adalah hasil dari mengorbankan lingkungan dan membabi buta mencari keuntungan ekonomis.” &#8211; Lu Guang -</p>
<p>22. Seorang gembala lanjut usia ini tidak tahan dengan bau Sungai Kuning yang kotor ini. 23 April 2006<br />
(sorry no pic)</p>
<p>23. Anak laki-laki 15 tahun dari Tianshui, Provinsi Gansu ini putus sekolah di kelas 2, mengikuti orangtuanya untuk bekerja di distrik industri Heilonggui. Dia mendapatkan 16 yuan per hari. 8 April 2005<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina23.jpg" alt="PolusiChina23" title="PolusiChina23" width="550" height="370" class="aligncenter size-full wp-image-145" /><br />
24. Pasangan suami istri yang baru pulang dari pekerjaan di tempat pengeringan plaster di Mongolia Dalam, provinsi Heilonggui . 22 Maret 2007<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina24.jpg" alt="PolusiChina24" title="PolusiChina24" width="550" height="383" class="aligncenter size-full wp-image-146" /><br />
25. Lima puluh penduduk desa Kang di Kota Linfen, Propinsi Shanxi menderita kanker dan trombosis serebral akibat air yang mereka konsumsi tercemar oleh limbah industri. Wang Baosheng, 64 tahun, jatuh sakit sejak tahun 2003, ia mempunyai borok di seluruh tubuhnya sehingga dia tidak bisa pergi ke tempat tidur dan hanya bisa berbaring tertelungkup di tepi tempat tidur setiap harinya. 10 Juli 2005<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina25.jpg" alt="PolusiChina25" title="PolusiChina25" width="550" height="363" class="aligncenter size-full wp-image-147" /><br />
26. Menghirup debu dalam jumlah besar ke dalam paru-paru, para pekerja biasanya jatuh sakit setelah bekerja selama 1-2 tahun. Sebagian besar pekerja migran ini berasal dari daerah yang miskin. 10 April 2005<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina26.jpg" alt="PolusiChina26" title="PolusiChina26" width="550" height="373" class="aligncenter size-full wp-image-148" /><br />
27. Desa Zhaozhuang di pinggiran sungai Hong di kota Wugang, provinsi Henan . Zhao Bingkun, 66 tahun, menderita serangan kanker sejak 2004. Setelah operasi kedua, biaya perawatan sudah mencapai lebih dari 200,000 yuan. Kondisinya sudah di tahap lanjut, dia mengalami demam setiap hari, menunggu kematian. 7 April 2009<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina27.jpg" alt="PolusiChina27" title="PolusiChina27" width="550" height="370" class="aligncenter size-full wp-image-149" /><br />
28. Desa Zhaozhuang di pinggiran sungai Hong di kota Wugang, provinsi Henan . Istri dari Gao Wanshun sudah meninggal karena kanker. Sekarang ia hidup dalam kemiskinan. 3 April 2009<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina28.jpg" alt="PolusiChina28" title="PolusiChina28" width="550" height="369" class="aligncenter size-full wp-image-150" /><br />
29. Xuanwei di propinsi Yunnan adalah sebuah desa kanker. Setiap tahun ada lebih dari 20 orang meninggal karena kanker. Xu Li, seorang siswa berumur 11 tahun ini menderita kanker tulang. 8 Mei 2007<br />
<img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina29.jpg" alt="PolusiChina29" title="PolusiChina29" width="550" height="396" class="aligncenter size-full wp-image-151" />
</div>
<p>
<h2>Tentang Fotografer</h2>
<div class="paragraph">
Pada tangggal 14 Oktober 2009 yang lalu, fotografer dari China Lu, Guang, memenangkan penghargaan W. Eugene Smith yang ke-30 pada bidang Fotografi Kemanusiaan atas proyek dokumenternya yang berjudul “Polusi di China&#8221;</p>
<p>Lu Guang , seorang fotografer freelance, memulai karirnya sebagai fotografer amatir pada tahun 1980. Ia dahulu adalah seorang buruh pabrik, kemudian membuka studio fotonya dan biro iklannya sendiri. Pada bulan Agustus 1993 ia kembali kuliah untuk pendidikan pasca-sarjana di Pusat Akademi Seni dan Desain di Beijing (sekarang Akademi Seni dan Desain, Universitas Tsinghua). Selama kuliah, ia belajar, berkelana ke seluruh negeri dan mengukir kariernya, hingga menjadi “kuda hitam” di lingkaran fotografer di Beijing.<br />
 <img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/PolusiChina00.jpg" alt="PolusiChina00" title="PolusiChina00" width="408" height="227" class="aligncenter size-full wp-image-120" /><br />
Terampil dalam fotografi dokumenter sosial, wawasannya, kekreatifan dan karya seninya sering terfokus pada “fenomena sosial dan orang-orang yang hidup di masyarakat kelas bawah”, menarik perhatian dari lingkaran fotografi nasional dan media. Banyak dari karya-karyanya yang memenangkan penghargaan terfokus pada isu-isu sosial seperti, “demam emas di sebelah barat”, “gadis obat”, “tambang batu bara kecil”, “desa HIV”, “Grand Canal”, “pengembangan jalur kereta epi Qinghai-Tibet “dan seterusnya.
</div>
</p>
<style>
.paragraph {
        font-family:Georgia,Utopia,Palatino,’Palatino Linotype’,serif;
        line-height:1.5em;   
        font-size: 14px;
}
</style>
<div  class="related_post_title">Related Posts</div><ul class="related_post"><li>No Related Posts</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.defanet.net/blog/78/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penghianatan Iklim</title>
		<link>http://www.defanet.net/blog/87</link>
		<comments>http://www.defanet.net/blog/87#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 05:50:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Farhamsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[climate change]]></category>
		<category><![CDATA[kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan iklim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://defanet.net/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[
Judul Asli : Kekeringan Australia. Sumber : Majalah Nasional Geografi Indonesia Edisi April 2009. Site Official : ngm.nationalgeographic.com


Apa yang akan terjadi ketika iklim berganti, sungai sungai mulai mengering, dan seluruh kebiasaan hidup mungkin tidak bisa lagi diterapkan. Inilah bentuk kekeringan yang mengkhawatirkan di Australia&#8230; sebuah bentuk penghianatan iklim.

Di suatu tempat di Australia tenggara, duduklah seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>
Judul Asli : Kekeringan Australia. Sumber : Majalah Nasional Geografi Indonesia Edisi April 2009. Site Official : ngm.nationalgeographic.com
</p></blockquote>
<div class="paragraph">
<b>Apa yang akan terjadi ketika iklim berganti, sungai sungai mulai mengering, dan seluruh kebiasaan hidup mungkin tidak bisa lagi diterapkan. Inilah bentuk kekeringan yang mengkhawatirkan di Australia&#8230; sebuah bentuk penghianatan iklim.</b><br />
<br />
<div id="attachment_86" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/KekeringanAustralia05.jpg" alt="Gambar 1. Simon Booth ingat masa ketika ia menggembalakan 250 ekor sapi di eternakannya di Australia tenggara—sebuah pemandangan yang mungkin tidak akan pernah disaksikan oleh anak-anaknya, Ryan dan Claire" title="KekeringanAustralia05" width="500" height="334" class="size-full wp-image-86" /><p class="wp-caption-text">Gambar 1. Simon Booth ingat masa ketika ia menggembalakan 250 ekor sapi di peternakannya di Australia tenggara—sebuah pemandangan yang mungkin tidak akan pernah disaksikan oleh anak-anaknya, Ryan dan Claire</p></div><br />
Di suatu tempat di Australia tenggara, duduklah seorang petani di dalam mobil bak terbuka yang berhenti di tepi jalan, merenungkan berbagai bentuk kekeringan yang melanda dunianya. Tanahnya kini menjadi gurun bersemak. Lelaki yang tidak pernah kaya, tetapi juga tidak pernah miskin tersebut telah menumpuk utang ratusan ribu dolar. Sapi-sapi yang dia pandangi lewat kaca depan mobil—tinggal itu sajalah pemasukan yang ia miliki.<br />
<br />
Disebuah pertemuan petani di peternakan sederhana di dekat Swan Hill. Seorang aparat penyuluh keuangan desa duduk di meja dapur, menasihati dirinya agar mereka menyatakan diri bangkrut karena utang telah melebihi nilai peternakan, sementara badai es telah merusak panen mereka baru-baru ini. Sambil menggandeng tangan istrinya dan air mata berlinangan, si petani terbata-bata menyampaikan beberapa kata: ”Saya sama sekali tidak punya apa pun untuk melanjutkan ini semua.” Si istri mengatakan bahwa setiap beberapa jam sekali ia memeriksa untuk memastikan bahwa suaminya tidak tergeletak di kebun buah dengan luka tembakan sendiri di kepala. Ketika rapat berakhir, si penyuluh mencatat nama keduanya dalam daftar pengawasan bunuh diri.<br />
<br />
<div id="attachment_85" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/KekeringanAustralia04.jpg" alt="Gambar 2. Para petani yang tertekan di lumbung beras kota Coleambally berkumpul untuk mendiskusikan pemangkasan jatah air yang mengakibatkan melorotnya produksi beras sebesar 98 persen dari 2006 ke 2008. Pertemuan tersebut agak mengerikan" title="KekeringanAustralia04" width="500" height="334" class="size-full wp-image-85" /><p class="wp-caption-text">Gambar 2. Para petani yang tertekan di lumbung beras kota Coleambally berkumpul untuk mendiskusikan pemangkasan jatah air yang mengakibatkan melorotnya produksi beras sebesar 98 persen dari 2006 ke 2008. Pertemuan tersebut agak mengerikan</p></div><br />
Benua terkering di dunia yang dihuni manusia itu tengah dalam bahaya kekurangan air. Di luar fakta sederhana tersebut, tak ada yang tegas-tegas menunjukkan krisis air di Australia. Walau warga Australia selalu bisa melewati periode-periode musim kemarau, kekeringan selama tujuh tahun ini adalah yang paling mengenaskan dalam catatan sejarah negeri itu selama 117 tahun. Bagi banyak pihak, pola hujan yang tidak menentu menandakan jejak buruk perubahan iklim yang disebabkan ulah manusia.<br />
<br />
Secara luas, pemanasan global diyakini meningkatkan frekuensi dan keparahan bencana alam seperti kekeringan. Hal yang tak terbantahkan menurut ilmuwan lingkungan asal Australia Tim Kelly adalah, ”dalam 15 tahun terakhir kita mengalami kenaikan suhu sebesar tiga per empat derajat Celsius dan itu memicu penguapan yang lebih banyak dari air kita. Itulah perubahan iklim”.<br />
<br />
Australia perlu waktu untuk menyadari kenyataan tersebut. Lagipula, negeri tersebut telah digarap oleh orang-orang optimistis yang tidak takut menjalani kehidupan di salah satu lanskap paling tidak subur di Bumi. Ilmuwan Australia Tim Flannery menyebutnya ”ekosistem bernutrisi rendah” dengan tanah yang menjadi tua dan tidak subur karena tidak pernah tercampur gletser dalam beberapa juta tahun terakhir. Orang-orang Eropa yang menuruni lembah Sungai Murray-Darling—sebuah dataran semiarid yang luasnya sekitar separuh luas daratan Indonesia—terbuai oleh serangkaian tahun yang basah di pertengahan abad ke-19 dan itu membuat mereka berpikir telah menemukan taman firdaus masa kini. Mengikuti kebiasaan di tanah asal, para pemukim kemudian menebangi sekitar 15 miliar batang pohon. Tanpa menyadari bahwa pencabutan akar vegetasi yang bagus adaptasinya di kondisi gersang bakal mengganggu siklus air, penghuni Australia yang baru itu pun mendatangkan domba, sapi, dan tanaman pangan yang rakus air, praktis semuanya asing terhadap ekosistem gurun. Penggarapan lahan tak berkesudahan untuk mendorong berkah baru Australia itu semakin mengurangi kualitas tanah. Lalu, sungai menjadi tali penyelamat bagi kawasan tersebut. Sungai Murray yang mengalir sepanjang 2.530 kilometer juga memiliki makna mitologis, yaitu menjadi simbol atas berbagai kemungkinan yang tak terbatas. Dari hulunya di pegunungan Alpen Australia hingga muaranya di Samudra Hindia.<br />
<br />
Kemajuan, bagi warga Australia, melibatkan pembelokan Sungai Murray sesuai keinginan mereka. Dalam satu abad terakhir, Sungai Murray telah dimekanisasi oleh sebuah armada yang terdiri atas bendungan, pintu air, dan tanggul sehingga aliran sungai dapat memberi keuntungan maksimal kepada para petani yang menggantungkan irigasi mereka pada Lembah Sungai Murray-Darling.<br /><div id="attachment_84" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/KekeringanAustralia03.jpg" alt="Gambar 3. Sebuah titik yang basah menjadi satu-satunya yang tersisa dari Danau Boga sejak anak sungainya digunakan untuk irigasi pada tahun 2007. Padahal, danau itu dahulu adalah tempat olahraga air. Ribuan ikan mati dan ekonomi Danau Boga yang berbasis pariwisa" title="KekeringanAustralia03" width="500" height="333" class="size-full wp-image-84" /><p class="wp-caption-text">Gambar 3. Sebuah titik yang basah menjadi satu-satunya yang tersisa dari Danau Boga sejak anak sungainya digunakan untuk irigasi pada tahun 2007. Padahal, danau itu dahulu adalah tempat olahraga air. Ribuan ikan mati dan ekonomi Danau Boga yang berbasis pariwisa</p></div>Akibatnya, menurut mantan menteri persemakmuran bidang pengairan Malcolm Turnbull, “Kami memiliki lingkungan yang tidak alami di sungai. Akibat pengaturannya, sungai tersebut kini mengalir deras ketika alam seharusnya mengalirkannya pelan, dan mengalir pelan ketika alam semestinya mengalirkannya deras.” Manipulasi tersebut punya konsekuensi yang tidak diharapkan. Irigasi membuat tingkat salinitas melonjak, sebaliknya meracuni lahan-lahan basah dan mengubah daratan luas menjadi tidak cocok untuk ditanami.<br />
<br />
Begitulah kondisi persediaan air yang rapuh di Australia, bahkan sebelum kekeringan menghantam seperti godam. Krisis tersebut membuat negara-negara bagian saling berhadap-hadapan, kota besar lawan wilayah pedesaan, penata lingkungan lawan petugas irigasi, dan pertanian kecil lawan pertanian raksasa yang didukung pemerintah dalam persaingan ketat memperebutkan komoditas yang menyusut. Di balik kenyataan bahwa kawasan Lembah Sungai Murray-Darling merupakan daerah penghasil gandum nasional,setiap wilayah permukiman besar telah menghadapi cengkeraman pengetatan air.<br />
<br />
Di saat krisis air muncul, yang dulu dikenal sebagai “keangkuhan Australia” kini berubah menjadi seperti “tahapan duka”, begitu istilah kondang dari psikiater Swiss Elisabeth Kubler-Ross. Istilah itu mencakup pengingkaran, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Dalam kondisi yang menjadi sebuah peringatan bagi negara-negara maju lainnya itu, Australia, negeri dengan perekonomian terbesar ke-15 di dunia, sedang belajar tentang batas-batas sumber daya alam di era perubahan iklim. Berita baiknya adalah Australia mungkin akan menjadi pihak yang memberikan pelajaran tersebut kepada negara-negara industri lainnya.<br />
<br />
Kanal demi kanal digali untuk mengalirkan air Sungai Murray ke lahan pertanian yang baru—dan kemudian ke distrik-distrik irigasi nan tersebar luas yang diperuntukkan bagi industri beras yang mulai tumbuh (dan sangat rakus air). Dalam waktu singkat, Sungai Murray mulai menyusut dan salinitas di tanah-tanah lapang mulai meningkat. Malangnya, resep yang ada cuma membuat penyakit jadi meluas. Teknologi irigasi antibocor mengakibatkan jumlah air yang kembali ke ekosistem menjadi semakin sedikit.<br />
<br />
Tak mudah bagi banyak warga Australia untuk menghubungkan versi Sungai Murray yang cacat saat ini dengan kemilau romantisme masa muda mereka. Di muara sungai, ekosistem yang subur telah lama diasupi oleh pasang naik-pasang surut air asin dan air tawar. Kini, untuk dapat mengalirkan air Sungai Murray yang bermasalah hingga ke laut, muara sungai tersebut harus dikeruk setiap saat. Tanpa pengerukan, muara akan tertimbun lumpur, menghambat aliran air tawar ke ekosistem laguna yang dinamakan Coorong dan ke Danau Alexandrina yang letaknya tak jauh.<br />
<br />
Dua pertiga wilayah Coorong telah mati—tingkat salinitasnya nyaris menyamai Laut Mati. Dalam perjalanan di seputar lembah dalam rangka menegaskan bahwa air haruslah dialokasikan pada Coorong dan danau-danaunya, Jones menemukan bahwa sentimen yang berkembang justru menyalahkan para pelestari lingkungan atas krisis yang terjadi. Para petani mengungkapkan kemarahan karena ”sungai aset kerja” mereka yang berharga hilang ke laut. Mereka menyampaikan kepada Jones bahwa lebih masuk akal mengalihkan seluruh aliran sungai Murray ke daratan dan memasrahkan sungai tersebut pada pengabdian abadi sebagai saluran irigasi sementara para nelayan bertahan dengan mencari penghidupan dari laut saja.<br />
<br />Kawasan Coorong hanyalah salah satu contoh mencolok dari ekosistem Lembah Murray-Darling yang terancam. Sebagai contoh, para ilmuwan Australia dan aparat pemerintahan terbukti teledor ketika jauh di daerah hulu, suatu kawasan melewati batas toleransi kekeringannya sehingga ratusan ribu pohon karet-merah sungai (sejenis eukaliptus) yang ada di dalam kawasan hutan karet-merah sungai terluas di dunia tiba-tiba mati.<br />
<br />
Baru-baru ini sebuah kekhawatiran juga muncul, yaitu lahan-lahan basah kemungkinan membentuk toksin. Daerah rawa yang terampas dari aliran musimannya dan kemudian malah terendam secara tidak alami selama berpuluh tahun tersebut telah berubah demikian kering sehingga endapan lumpur kering bereaksi dengan udara untuk membentuk permukaan asam belerang yang luas. Para ilmuwan belum sepenuhnya mengukur dampak yang terjadi terhadap binatang dan manusia. Untuk saat ini, sesuai pengamatan ekonom air dari University of Adelaide Mike Young, “Anda pasti tidak ingin memasukkan tangan Anda ke dalamnya”.<br /><div id="attachment_83" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2010/01/KekeringanAustralia02.jpg" alt="Gambar 4. Ilmuwan Rob Fitzpatrick dan Paul Shand dengan dukungan Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization mengumpulkan sampel tanah di Rawa Jury. Di tanah basah sepanjang Sungai Murray, kandungan mineral dalam tanah yang bereaksi den" title="KekeringanAustralia02" width="500" height="333" class="size-full wp-image-83" /><p class="wp-caption-text">Gambar 4. Ilmuwan Rob Fitzpatrick dan Paul Shand dengan dukungan Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization mengumpulkan sampel tanah di Rawa Jury. Di tanah basah sepanjang Sungai Murray, kandungan mineral dalam tanah yang bereaksi dengan udara membentuk permukaan asam belerang yang beracun</p></div>Namun, apa sesungguhnya makna dari ini semua? Akankah ini bermakna pembangunan instalasi desalinasi yang mahal di Adelaide, Sydney, dan tempat-tempat lainnya, diikuti pengeluaran energi yang semakin meningkat? Apakah mungkin untuk mengembangkan varietas tanaman yang tahan kekeringan untuk menjaga produksi pangan tetap berjalan? Atau mengurangi secara drastis kebutuhan air para peternak sapi perah yang menggunakan 1.000 liter air bagi setiap liter susu yang mereka hasilkan? Sebuah bentang alam baru yang kokoh dibutuhkan dan itu terserah kepada Australia untuk menunjukkan kepada seluruh dunia industri seperti apa wujud lanskap tersebut. Sebagai awal, bentang alam tersebut mungkin merupakan lanskap yang bisa menyesuaikan diri dengan keterbatasan.
</div>
<style>
.paragraph {
        font-family:Georgia,Utopia,Palatino,’Palatino Linotype’,serif;
        line-height:1.5em;   
        font-size: 14px;
}
</style>
<div  class="related_post_title">Related Posts</div><ul class="related_post"><li>No Related Posts</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.defanet.net/blog/87/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Faktor-Faktor yg Mempengaruhi Iklim Bumi</title>
		<link>http://www.defanet.net/blog/52</link>
		<comments>http://www.defanet.net/blog/52#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 19:23:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Farhamsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Climate]]></category>
		<category><![CDATA[Climate Factor]]></category>
		<category><![CDATA[Faktor Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://defanet.net/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[
Iklim adalah sebuah sistem yang sangat kompleks, sistem yang saling berinteraksi antara atmosfer, permukaan tanah, salju, es, samudra, sungai, dan makhluk hidup. Atmosfer adalah komponen sistem iklim yang terbesar, iklim sering didefinisikan sebagai &#8220;cuaca rata-rata &#8216;. Iklim biasanya digambarkan dalam bentuk rata-rata (mean) dan variabilitas suhu, curah hujan dan angin selama periode waktu, mulai dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph">
Iklim adalah sebuah sistem yang sangat kompleks, sistem yang saling berinteraksi antara atmosfer, permukaan tanah, salju, es, samudra, sungai, dan makhluk hidup. Atmosfer adalah komponen sistem iklim yang terbesar, iklim sering didefinisikan sebagai &#8220;cuaca rata-rata &#8216;. Iklim biasanya digambarkan dalam bentuk rata-rata (mean) dan variabilitas suhu, curah hujan dan angin selama periode waktu, mulai dari bulanan hingga jutaan tahun (periode klasik adalah 30 tahun). Sistem iklim selalu berubah setiap waktu di bawah pengaruh dinamika internalnya sendiri dan juga karena perubahan faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi iklim (disebut &#8216;Forcings&#8217; atau gangguan). Gangguan eksternal meliputi fenomena alam seperti letusan gunung berapi, variasi radiasi matahari, serta manusia yang menyebabkan perubahan dalam komposisi atmosfer. Diantara gangguan eksternal tersebut, radiasi matahari adalah faktor terbesar yang dapat merubah sistem iklim. Setidaknya ada tiga hal yang dapat menggangu kesetimbangan sistem iklim bumi: 1) perubahan radiasi matahari yang masuk ke bumi (misalnya, perubahan dalam orbit Bumi atau pada radiasi matahari itu sendiri); 2) perubahan fraksi pantulan radiasi matahari (disebut &#8216;Albedo&#8217;; misalnya, perubahan kuantitas awan, partikel atmosfer atau tumbuh-tumbuhan), dan 3) perubahan radiasi gelombang panjang dari bumi kembali ke ruang angkasa (misalnya, perubahan konsentrasi gas rumah kaca). Iklim, pada gilirannya, merespon secara langsung perubahan tersebut, dan secara tidak langsung, melalui berbagai mekanisme umpan balik.<br />
<div id="attachment_59" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-59" title="FaktorIklim" src="http://defanet.net/wp-content/uploads/faktorIklim1.jpg" alt="Estimasi keseimbangan energi bumi tahunan. Dalam jangka panjang, jumlah radiasi matahari yang masuk diserap Bumi dan atmosfer diseimbangkan oleh pelepasan energi radiasi gelombang panjang dengan jumlah yang sama. Sekitar setengah dari radiasi matahari yang masuk diserap oleh permukaan bumi. Energi ini ditransfer ke atmosfer oleh pemanasan udara yang kontak langsung dengan permukaan (thermal), oleh penguapan dan radiasi gelombang panjang yang diserap oleh awan dan gas rumah kaca. Atmosfer kemudian memancarkan energi gelombang panjang kembali ke bumi dan ke ruang angkasa. Sumber: Kiehl dan Trenberth (1997)." width="600" height="349" /><p class="wp-caption-text">Estimasi keseimbangan energi bumi tahunan. Dalam jangka panjang, jumlah radiasi matahari yang masuk diserap Bumi dan atmosfer diseimbangkan oleh pelepasan energi radiasi gelombang panjang dengan jumlah yang sama. Sekitar setengah dari radiasi matahari yang masuk diserap oleh permukaan bumi. Energi ini ditransfer ke atmosfer oleh pemanasan udara yang kontak langsung dengan permukaan (thermal), oleh penguapan dan radiasi gelombang panjang yang diserap oleh awan dan gas rumah kaca. Atmosfer kemudian memancarkan energi gelombang panjang kembali ke bumi dan ke ruang angkasa. Sumber: Kiehl dan Trenberth (1997).</p></div><br />
<br />
Jumlah energi yang mencapai puncak atmosfer bumi setiap detik untuk luas permukaan satu meter persegi tegak lurus terhadap matahari pada siang hari adalah sekitar 1.370 Watts, dan jumlah energi per meter persegi per detik untuk rata-rata seluruh permukaan atmosfer bumi adalah seperempat dari nilai tersebut (lihat Gambar 1). Sekitar 30% dari cahaya matahari yang mencapai puncak atmosfer langsung dipantulkan kembali ke angkasa. Kira-kira dua pertiga dari pantulan ini disebabkan oleh awan dan partikel kecil di atmosfer yang dikenal sebagai &#8216;aerosol&#8217;. Daerah berwarna dari permukaan bumi &#8211; terutama salju, es dan gurun – menunjukan sisa sepertiga dari sinar matahari tersebut. Perubahan paling dramatis dalam produksi pantulan aerosol berasal dari letusan besar gunung berapi yang mengeluarkan materi cukup tinggi ke atmospher. Hujan biasanya membersihkan aerosol turun dari atmosfer dalam satu atau dua minggu, tetapi jika materi dari letusan besar gunung berapi dilempar jauh ke puncak lapisan teratas awan, aerosol ini biasanya mempengaruhi iklim selama sekitar satu atau dua tahun sebelum jatuh ke dalam troposfer dan dibawa ke permukaan bumi oleh hujan. Letusan besar gunung berapi dengan demikian dapat menyebabkan penurunan suhu rata-rata permukaan global sekitar setengah derajat celsius yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Beberapa aerosol buatan manusia juga secara signifikan memantulkan sinar matahari.<br />
<br />
Energi yang tidak dipantulkan kembali ke angkasa diserap oleh permukaan bumi dan atmosfer. Jumlahnya sekitar 240 Watts per meter persegi (W m-2). Untuk menyeimbangkan energi masuk ini, Bumi harus meradiasikan, secara rata-rata, energi dengan jumlah yang sama kembali ke angkasa. Bumi melakukan hal ini dengan memancarkan radiasi gelombang panjang keluar. Semua benda di bumi memancarkan radiasi gelombang panjang terus-menerus. Radiasi gelombang panjang adalah energi panas yang dipancarkan suatu benda ketika suhunya lebih panas daripada lingkungannya; semakin hangat suatu benda, semakin banyak energi panas yang diradiasikan. Untuk meradiasikan 240 W m-2, permukaan benda harus memiliki suhu sekitar -19°C. Ini jauh lebih dingin daripada kondisi permukaan bumi  sebenarnya (rata-rata suhu global permukaan bumi adalah sekitar 14°C). Sebaliknya, suhu -19°C adalah  suhu permukaan bumi pada ketinggian sekitar 5 km di atas muka laut.<br />
<br />Alasan permukaan bumi memanas adalah adanya gas rumah kaca, yang berfungsi sebagai selimut bagi sebagian radiasi gelombang panjang yang terpancar dari permukaan bumi. Penyelimutan ini dikenal sebagai efek rumah kaca alami. Gas rumah kaca yang terpenting adalah uap air dan karbon dioksida. Dua unsur yang paling mendominasi dari atmosfer &#8211; nitrogen dan oksigen &#8211; tidak memiliki efek seperti itu. Awan, di sisi lain, memberikan efek penyelimutan mirip dengan gas rumah kaca, namun efek ini diimbangi oleh pantulan mereka, sehingga rata-rata, awan cenderung memiliki efek pendinginan iklim (meskipun secara lokal dapat dirasakan efek pemanasan: malam yang berawan cenderung tetap hangat daripada malam yang cerah karena awan memancarkan energi gelombang panjang kembali ke permukaan). Kegiatan manusia secara intensif meningkatkan efek penyelimutan melalui pelepasan gas rumah kaca. Sebagai contoh, jumlah karbon dioksida di atmosfer telah meningkat sekitar 35% pada era industri, dan peningkatan ini diketahui disebabkan oleh aktivitas manusia, khususnya pembakaran bahan bakar fosil dan pembabatan hutan. Demikianlah, manusia secara dramatis telah mengubah komposisi kimia atmosfer global dengan implikasi substansial iklim.<br />
<br />Karena Bumi berbentuk bola, paparan energi matahari lebih banyak masuk ke daerah lintang khatulistiwa dibandingkan di daerah lintang lainnya. Energi kemudian  transferkan dari daerah khatulistiwa ke lintang yang lebih tinggi melalui atmosfer dan sirkulasi arus laut, termasuk badai. Energi juga diperlukan untuk menguapkan air dari permukaan laut atau tanah, dan energi ini, yang disebut panas laten, dilepaskan ketika uap air terkondensasi di awan (lihat Gambar 1). Pada dasarnya sirkulasi atmosfer dikontrol oleh pelepasan panas laten ini. Sirkulasi atmosfer kemudian memicu sebagian sirkulasi laut seperti arus dan salinitas. Sirkulasi arus laut dipicu oleh angin dan perubahan suhu permukaan laut, sedangkan sirkulasi salinitas dipicu oleh curah hujan dan penguapan.<br />
<br />Akibat rotasi Bumi, pola sirkulasi atmosfer cenderung lebih mengarah ke timur-barat dari pada utara-selatan. Pada daerah lintang pertengahan terdapat sistem angin barat bersekala besar yang berperan untuk mengangkut panas ke arah kutub. Sistem ini merupakan sistem pertukaran tekanan rendah dan tekanan tinggi yang akrab disebut pertukaran gelombang panas dan gelombang dingin. Akibat perbedaan suhu antara daratan dan lautan serta adanya penghalang seperti pegunungan dan padang es, pada skala global sistem sirkulasi atmosfer -secara geografis- cenderung berhenti di benua atau di pegunungan meskipun lebar cakupan sirkulasi tersebut dapat berubah sewaktu-waktu. Karena pola sirkulasi ini, musim dingin yang sangat dingin di Amerika Utara dapat berhubungan dengan musim dingin yang sangat panas di belahan bumi yang lain. Perubahan dalam berbagai aspek sistem iklim, seperti perubahan lebar ukuran padang es, perubahan jenis dan distribusi vegetasi, perubahan suhu atmosfer atau laut akan mempengaruhi sirkulasi atmosfer dan laut dalam skala yang besar.<br />
<br />Ada banyak mekanisme umpan balik dalam sistem iklim yang dapat memperkuat ( &#8216;umpan balik positif&#8217;) atau mengurangi ( &#8216;umpan balik negatif&#8217;) dampak perubahan iklim. Sebagai contoh, karena peningkatan konsentrasi gas rumah kaca yang menghangatkan iklim bumi, salju dan es mulai mencair. Pelelehan ini mengungkap bagian permukaan tanah yang lebih gelap yang berada dibawah salju dan es, kemudian permukaan tanah yang gelap ini menyerap lebih banyak panas matahari, menyebabkan lebih banyak pemanasan, yang menyebabkan lebih pelelehan salju dan es, dan seterusnya, dalam siklus yang makin lama semakin kuat. Umpan balik ini, yang dikenal sebagai &#8216;umpan balik es-Albedo&#8217;, memperkuat pemanasan awal yang disebabkan oleh meningkatnya kadar gas rumah kaca. Mendeteksi, memahami dan mengukur secara akurat umpan-balik iklim telah menjadi fokus dari banyak penelitian para ilmuwan dalam upaya untuk menguraikan kompleksitas iklim Bumi.</div>
<div  class="related_post_title">Related Posts</div><ul class="related_post"><li><a href="http://www.defanet.net/blog/179" title="Hubungan antara Iklim dan Cuaca"><img src="" alt="Hubungan antara Iklim dan Cuaca" /></a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.defanet.net/blog/52/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Interpolasi Kriging untuk Membuat Peta Kontur</title>
		<link>http://www.defanet.net/blog/10</link>
		<comments>http://www.defanet.net/blog/10#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 07:33:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Farhamsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Programming]]></category>
		<category><![CDATA[Countur]]></category>
		<category><![CDATA[Kontur]]></category>
		<category><![CDATA[Krigging]]></category>
		<category><![CDATA[Mapping]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Komputasi]]></category>
		<category><![CDATA[Program Java]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wordpress/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Prosedur estimasi standar yang digunakan untuk membuat peta kontur adalah Kriging. Keunggulan prosedur ini dibandingkan algoritma kontur yang lain adalah penggunaan optimalisasi secara statistik sekaligus menyediakan error pengukuran atau ketidakpastian kontur. Kriging menggunakan informasi dari semivariogram untuk menemukan nilai optimal bobot yang akan digunakan dalam estimasi suatu nilai dari lokasi yang tidak diobservasi. Karena semivariogram [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-11" title="peaks_index_contours" src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2009/11/peaks_index_contours.gif" alt="peaks_index_contours" width="335" height="261" />Prosedur estimasi standar yang digunakan untuk membuat peta kontur adalah Kriging. Keunggulan prosedur ini dibandingkan algoritma kontur yang lain adalah penggunaan optimalisasi secara statistik sekaligus menyediakan error pengukuran atau ketidakpastian kontur. Kriging menggunakan informasi dari semivariogram untuk menemukan nilai optimal bobot yang akan digunakan dalam estimasi suatu nilai dari lokasi yang tidak diobservasi. Karena semivariogram adalah fungsi dari jarak, nilai bobot berubah berdasarkan letak geografis observasi. Nilai dari lokasi yang tidak diobservasi dinyatakan dalam rata-rata bobot nilai dari lokasi terobservasi.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-17" title="corel" src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2009/11/corel.jpg" alt="corel" width="74" height="31" /></p>
<p>Untuk daerah stabil (stasionary) atau mengikuti trend tertentu , prosedur Kriging untuk mencari nilai pada titik p dari tiga titik observasi yang ketahui adalah</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-16" title="corel6" src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2009/11/corel6.jpg" alt="corel6" width="257" height="102" /></p>
<p>Untuk menyelesaikannya harus diketahui bobot terlebih dahulu dengan membentuk matrix yang disisipi pengali-Lagrange ? sebagai derajat kebebasan tambahan.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-12" title="corel2" src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2009/11/corel2.jpg" alt="corel2" width="272" height="76" /></p>
<p>bentuk Kriging sederhana diatas disebut Punctual Kriging. Namun untuk daerah nonstasionary, ada dua komponen yang perlu diperhitungkan yaitu kehadiran Drift dan Residual. Drift adalah rata-rata nilai variabel regional disekitar observasi sedangkan residual adalah perbedaan antara pengukuran sebenarnya terhadap nilai drift. Nilai drift (M) itu sendiri untuk titik p dapat didefenisikan sebagai polynomial orde-1 atau orde-2.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-13" title="corel3" src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2009/11/corel3.jpg" alt="corel3" width="130" height="20" /></p>
<p>atau</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-14" title="corel4" src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2009/11/corel4.jpg" alt="corel4" width="314" height="22" /></p>
<p>disini dan adalah kordinat geografis ke-I terhadap titik kontrol tetangganya. Matrix (II.26) apabila disisipkan dengan komponen drift menjadi</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-15" title="corel5" src="http://defanet.net/wp-content/uploads/2009/11/corel5.jpg" alt="corel5" width="342" height="117" /></p>
<p style="text-align: left;">bentuk Kriging ini disebut Universal Kriging . Berikut contoh program java untuk punctual Kriging :</p>
<p style="text-align: left;">
<pre class="brush: java;">
public class Kriging {
   public Kriging() {
      System.out.println(&quot;Maaf programnya sedang dimodifikasi&quot;);
      System.out.println(&quot;Untuk performa yang lebih cepat, tunggu minggu depan&quot;);
   }

}
</pre>
<div  class="related_post_title">Related Posts</div><ul class="related_post"><li><a href="http://www.defanet.net/blog/190" title="Membaca Data Dari File"><img src="" alt="Membaca Data Dari File" /></a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.defanet.net/blog/10/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
