Penghianatan Iklim

Saturday, January 9th, 2010 7 Commented

Judul Asli : Kekeringan Australia. Sumber : Majalah Nasional Geografi Indonesia Edisi April 2009. Site Official : ngm.nationalgeographic.com

Apa yang akan terjadi ketika iklim berganti, sungai sungai mulai mengering, dan seluruh kebiasaan hidup mungkin tidak bisa lagi diterapkan. Inilah bentuk kekeringan yang mengkhawatirkan di Australia… sebuah bentuk penghianatan iklim.

Gambar 1. Simon Booth ingat masa ketika ia menggembalakan 250 ekor sapi di eternakannya di Australia tenggara—sebuah pemandangan yang mungkin tidak akan pernah disaksikan oleh anak-anaknya, Ryan dan Claire

Gambar 1. Simon Booth ingat masa ketika ia menggembalakan 250 ekor sapi di peternakannya di Australia tenggara—sebuah pemandangan yang mungkin tidak akan pernah disaksikan oleh anak-anaknya, Ryan dan Claire


Di suatu tempat di Australia tenggara, duduklah seorang petani di dalam mobil bak terbuka yang berhenti di tepi jalan, merenungkan berbagai bentuk kekeringan yang melanda dunianya. Tanahnya kini menjadi gurun bersemak. Lelaki yang tidak pernah kaya, tetapi juga tidak pernah miskin tersebut telah menumpuk utang ratusan ribu dolar. Sapi-sapi yang dia pandangi lewat kaca depan mobil—tinggal itu sajalah pemasukan yang ia miliki.

Disebuah pertemuan petani di peternakan sederhana di dekat Swan Hill. Seorang aparat penyuluh keuangan desa duduk di meja dapur, menasihati dirinya agar mereka menyatakan diri bangkrut karena utang telah melebihi nilai peternakan, sementara badai es telah merusak panen mereka baru-baru ini. Sambil menggandeng tangan istrinya dan air mata berlinangan, si petani terbata-bata menyampaikan beberapa kata: ”Saya sama sekali tidak punya apa pun untuk melanjutkan ini semua.” Si istri mengatakan bahwa setiap beberapa jam sekali ia memeriksa untuk memastikan bahwa suaminya tidak tergeletak di kebun buah dengan luka tembakan sendiri di kepala. Ketika rapat berakhir, si penyuluh mencatat nama keduanya dalam daftar pengawasan bunuh diri.

Gambar 2. Para petani yang tertekan di lumbung beras kota Coleambally berkumpul untuk mendiskusikan pemangkasan jatah air yang mengakibatkan melorotnya produksi beras sebesar 98 persen dari 2006 ke 2008. Pertemuan tersebut agak mengerikan

Gambar 2. Para petani yang tertekan di lumbung beras kota Coleambally berkumpul untuk mendiskusikan pemangkasan jatah air yang mengakibatkan melorotnya produksi beras sebesar 98 persen dari 2006 ke 2008. Pertemuan tersebut agak mengerikan


Benua terkering di dunia yang dihuni manusia itu tengah dalam bahaya kekurangan air. Di luar fakta sederhana tersebut, tak ada yang tegas-tegas menunjukkan krisis air di Australia. Walau warga Australia selalu bisa melewati periode-periode musim kemarau, kekeringan selama tujuh tahun ini adalah yang paling mengenaskan dalam catatan sejarah negeri itu selama 117 tahun. Bagi banyak pihak, pola hujan yang tidak menentu menandakan jejak buruk perubahan iklim yang disebabkan ulah manusia.

Secara luas, pemanasan global diyakini meningkatkan frekuensi dan keparahan bencana alam seperti kekeringan. Hal yang tak terbantahkan menurut ilmuwan lingkungan asal Australia Tim Kelly adalah, ”dalam 15 tahun terakhir kita mengalami kenaikan suhu sebesar tiga per empat derajat Celsius dan itu memicu penguapan yang lebih banyak dari air kita. Itulah perubahan iklim”.

Australia perlu waktu untuk menyadari kenyataan tersebut. Lagipula, negeri tersebut telah digarap oleh orang-orang optimistis yang tidak takut menjalani kehidupan di salah satu lanskap paling tidak subur di Bumi. Ilmuwan Australia Tim Flannery menyebutnya ”ekosistem bernutrisi rendah” dengan tanah yang menjadi tua dan tidak subur karena tidak pernah tercampur gletser dalam beberapa juta tahun terakhir. Orang-orang Eropa yang menuruni lembah Sungai Murray-Darling—sebuah dataran semiarid yang luasnya sekitar separuh luas daratan Indonesia—terbuai oleh serangkaian tahun yang basah di pertengahan abad ke-19 dan itu membuat mereka berpikir telah menemukan taman firdaus masa kini. Mengikuti kebiasaan di tanah asal, para pemukim kemudian menebangi sekitar 15 miliar batang pohon. Tanpa menyadari bahwa pencabutan akar vegetasi yang bagus adaptasinya di kondisi gersang bakal mengganggu siklus air, penghuni Australia yang baru itu pun mendatangkan domba, sapi, dan tanaman pangan yang rakus air, praktis semuanya asing terhadap ekosistem gurun. Penggarapan lahan tak berkesudahan untuk mendorong berkah baru Australia itu semakin mengurangi kualitas tanah. Lalu, sungai menjadi tali penyelamat bagi kawasan tersebut. Sungai Murray yang mengalir sepanjang 2.530 kilometer juga memiliki makna mitologis, yaitu menjadi simbol atas berbagai kemungkinan yang tak terbatas. Dari hulunya di pegunungan Alpen Australia hingga muaranya di Samudra Hindia.

Kemajuan, bagi warga Australia, melibatkan pembelokan Sungai Murray sesuai keinginan mereka. Dalam satu abad terakhir, Sungai Murray telah dimekanisasi oleh sebuah armada yang terdiri atas bendungan, pintu air, dan tanggul sehingga aliran sungai dapat memberi keuntungan maksimal kepada para petani yang menggantungkan irigasi mereka pada Lembah Sungai Murray-Darling.
Gambar 3. Sebuah titik yang basah menjadi satu-satunya yang tersisa dari Danau Boga sejak anak sungainya digunakan untuk irigasi pada tahun 2007. Padahal, danau itu dahulu adalah tempat olahraga air. Ribuan ikan mati dan ekonomi Danau Boga yang berbasis pariwisa

Gambar 3. Sebuah titik yang basah menjadi satu-satunya yang tersisa dari Danau Boga sejak anak sungainya digunakan untuk irigasi pada tahun 2007. Padahal, danau itu dahulu adalah tempat olahraga air. Ribuan ikan mati dan ekonomi Danau Boga yang berbasis pariwisa

Akibatnya, menurut mantan menteri persemakmuran bidang pengairan Malcolm Turnbull, “Kami memiliki lingkungan yang tidak alami di sungai. Akibat pengaturannya, sungai tersebut kini mengalir deras ketika alam seharusnya mengalirkannya pelan, dan mengalir pelan ketika alam semestinya mengalirkannya deras.” Manipulasi tersebut punya konsekuensi yang tidak diharapkan. Irigasi membuat tingkat salinitas melonjak, sebaliknya meracuni lahan-lahan basah dan mengubah daratan luas menjadi tidak cocok untuk ditanami.

Begitulah kondisi persediaan air yang rapuh di Australia, bahkan sebelum kekeringan menghantam seperti godam. Krisis tersebut membuat negara-negara bagian saling berhadap-hadapan, kota besar lawan wilayah pedesaan, penata lingkungan lawan petugas irigasi, dan pertanian kecil lawan pertanian raksasa yang didukung pemerintah dalam persaingan ketat memperebutkan komoditas yang menyusut. Di balik kenyataan bahwa kawasan Lembah Sungai Murray-Darling merupakan daerah penghasil gandum nasional,setiap wilayah permukiman besar telah menghadapi cengkeraman pengetatan air.

Di saat krisis air muncul, yang dulu dikenal sebagai “keangkuhan Australia” kini berubah menjadi seperti “tahapan duka”, begitu istilah kondang dari psikiater Swiss Elisabeth Kubler-Ross. Istilah itu mencakup pengingkaran, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Dalam kondisi yang menjadi sebuah peringatan bagi negara-negara maju lainnya itu, Australia, negeri dengan perekonomian terbesar ke-15 di dunia, sedang belajar tentang batas-batas sumber daya alam di era perubahan iklim. Berita baiknya adalah Australia mungkin akan menjadi pihak yang memberikan pelajaran tersebut kepada negara-negara industri lainnya.

Kanal demi kanal digali untuk mengalirkan air Sungai Murray ke lahan pertanian yang baru—dan kemudian ke distrik-distrik irigasi nan tersebar luas yang diperuntukkan bagi industri beras yang mulai tumbuh (dan sangat rakus air). Dalam waktu singkat, Sungai Murray mulai menyusut dan salinitas di tanah-tanah lapang mulai meningkat. Malangnya, resep yang ada cuma membuat penyakit jadi meluas. Teknologi irigasi antibocor mengakibatkan jumlah air yang kembali ke ekosistem menjadi semakin sedikit.

Tak mudah bagi banyak warga Australia untuk menghubungkan versi Sungai Murray yang cacat saat ini dengan kemilau romantisme masa muda mereka. Di muara sungai, ekosistem yang subur telah lama diasupi oleh pasang naik-pasang surut air asin dan air tawar. Kini, untuk dapat mengalirkan air Sungai Murray yang bermasalah hingga ke laut, muara sungai tersebut harus dikeruk setiap saat. Tanpa pengerukan, muara akan tertimbun lumpur, menghambat aliran air tawar ke ekosistem laguna yang dinamakan Coorong dan ke Danau Alexandrina yang letaknya tak jauh.

Dua pertiga wilayah Coorong telah mati—tingkat salinitasnya nyaris menyamai Laut Mati. Dalam perjalanan di seputar lembah dalam rangka menegaskan bahwa air haruslah dialokasikan pada Coorong dan danau-danaunya, Jones menemukan bahwa sentimen yang berkembang justru menyalahkan para pelestari lingkungan atas krisis yang terjadi. Para petani mengungkapkan kemarahan karena ”sungai aset kerja” mereka yang berharga hilang ke laut. Mereka menyampaikan kepada Jones bahwa lebih masuk akal mengalihkan seluruh aliran sungai Murray ke daratan dan memasrahkan sungai tersebut pada pengabdian abadi sebagai saluran irigasi sementara para nelayan bertahan dengan mencari penghidupan dari laut saja.

Kawasan Coorong hanyalah salah satu contoh mencolok dari ekosistem Lembah Murray-Darling yang terancam. Sebagai contoh, para ilmuwan Australia dan aparat pemerintahan terbukti teledor ketika jauh di daerah hulu, suatu kawasan melewati batas toleransi kekeringannya sehingga ratusan ribu pohon karet-merah sungai (sejenis eukaliptus) yang ada di dalam kawasan hutan karet-merah sungai terluas di dunia tiba-tiba mati.

Baru-baru ini sebuah kekhawatiran juga muncul, yaitu lahan-lahan basah kemungkinan membentuk toksin. Daerah rawa yang terampas dari aliran musimannya dan kemudian malah terendam secara tidak alami selama berpuluh tahun tersebut telah berubah demikian kering sehingga endapan lumpur kering bereaksi dengan udara untuk membentuk permukaan asam belerang yang luas. Para ilmuwan belum sepenuhnya mengukur dampak yang terjadi terhadap binatang dan manusia. Untuk saat ini, sesuai pengamatan ekonom air dari University of Adelaide Mike Young, “Anda pasti tidak ingin memasukkan tangan Anda ke dalamnya”.
Gambar 4. Ilmuwan Rob Fitzpatrick dan Paul Shand dengan dukungan Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization mengumpulkan sampel tanah di Rawa Jury. Di tanah basah sepanjang Sungai Murray, kandungan mineral dalam tanah yang bereaksi den

Gambar 4. Ilmuwan Rob Fitzpatrick dan Paul Shand dengan dukungan Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization mengumpulkan sampel tanah di Rawa Jury. Di tanah basah sepanjang Sungai Murray, kandungan mineral dalam tanah yang bereaksi dengan udara membentuk permukaan asam belerang yang beracun

Namun, apa sesungguhnya makna dari ini semua? Akankah ini bermakna pembangunan instalasi desalinasi yang mahal di Adelaide, Sydney, dan tempat-tempat lainnya, diikuti pengeluaran energi yang semakin meningkat? Apakah mungkin untuk mengembangkan varietas tanaman yang tahan kekeringan untuk menjaga produksi pangan tetap berjalan? Atau mengurangi secara drastis kebutuhan air para peternak sapi perah yang menggunakan 1.000 liter air bagi setiap liter susu yang mereka hasilkan? Sebuah bentang alam baru yang kokoh dibutuhkan dan itu terserah kepada Australia untuk menunjukkan kepada seluruh dunia industri seperti apa wujud lanskap tersebut. Sebagai awal, bentang alam tersebut mungkin merupakan lanskap yang bisa menyesuaikan diri dengan keterbatasan.
Related Posts
  • No Related Posts

7 Responses to “Penghianatan Iklim”

  1. Cialis says:

    EYqqAl Excellent article, I will take note. Many thanks for the story!

  2. dewi says:

    di mana-mana diseluruh dunia, alam sudah tidak seimbang lagi, itu menandakan bahwa bumi semakin tua, artinya kiamat sudah semakin dekat.

  3. Lestai says:

    Yhanks for your great website! ^^

    Lesbian Hentai

  4. darmi says:

    iklim berkhianat karena “bumi”nya disakiti manusia

  5. Helleaasip says:

    Sertne bewartder

Leave a Reply